November 24, 2008

Pantai Nusa Dua

Pantai Nusa Dua Bali merupakan kawasan Pusat Pengembangan Pariwisata Bali (Bali Tourism Development Coorporation). Pantai ini terletak di bagian bawah dan ujung Pulau Bali dan berdekatan dengan kawasan Watersport Tanjung Benoa. Di kawasan ini kita dapat menikmati panaorama terbaik Bali. Airnya bening dan tenang, pasirnya lebih putih dan pemandangannya sangat mempesona. Kawasan wisata Pantai Nusa Dua Bali juga dikenal sebagai kawasan wisata yang peduli pada lingkungan dan menjadikannya kawasan pertama di Asia Pasifik yang mendapatkan Green Globe, yaitu setifikat yang diberikan oleh Evaluator Evaluate Communicate Evolve bagi tempat wisata yang ramah lingkungan.

Keistimewaan Pantai Nusa Dua tidak hanya berhenti sampai di situ, karena fasilitas yang tersedia di sana juga sangat esklusif. Selain menikmati pemandangan pantai yang menawan, kita juga dapat menikmati kemegahan hotel-hotel kelas dunia, fasilitas olah raga air yang luar biasa, restoran dengan menu yang sangat lengkap dan wisata adventure Bali Camel Safari atau wisata naik onta.

Karena letaknya di ujung Bali, pantai ini lebih sepi pengunjung bila dibandingkan dengan pantai lainnya yang ada di Bali. Hal ini menjadikan Pantai Nusa Dua terrasa lebih private dan esklusif. (Nuning)

November 23, 2008

Monkey Forest

Monkey Forest atau Hutan Monyet atau Wenara Wana merupakan kawasan wisata yang terletak di Desa Pakraman, Padangtegal, Ubud, Bali, yang objeknya adalah kera-kera (Macaca fascicularis). Di kawasan hutan seluas 10 Hektar ini terdapat sedikitnya 300 kera Bali. Mereka hidup berkelompok. Pada setiap kelompok ada ketua kelompoknya. Ketua kelompok ini selalu diikuti oleh pengikutnya. Kera-kera Bali ini hidup berpindah-pindah dalam 4 kawasan/wilayah berbeda. Tidak jarang tejadi konflik fisik pada saat kelompok-kelompok ini ingin menguasai daerah tertentu.

Apabila Anda berkunjung ke sana, Anda akan menyaksikan monyet-monyet ini cukup bersahabat, mereka sibuk dengan dunianya. Anda boleh mendekat dan menyodorkan pisang atau kacang pada monyet-monyet tersebut dan monyet-monyet tersebut akan melahapnya. Namun hindarkan penggunaan kaca mata, topi atau barang-barang lain pada tangan Anda karena bisa saja monyet-monyet tersebut tertarik dan kemudian mengejar Anda. Seperti gambar di atas, seekor monyet sedang menikmati minuman Mizone, setelah mengejar dan mengambilnya dari rekan saya yang kebetulan membawa minuman tersebut :-)

Kawasan Monkey Forest tidak hanya sebagai objek wisata, namun juga menjadi tempat konservasi, balai penelitian tanaman hutan dan tempat sakral. Di sini terdapat 125 jenis tanaman yang terdiri dari pohon bambu, pohon pinang, pohon mahoni, dan pohon majegau serta beraneka ragam tumbuh-tumbuhan yang berkaitan dengan upacara.
Adapun tempat sakral yang ada di sini terdiri atas Pura Kahyangan Tiga Desa Adat Padangtegal, yakni:
1. Pura Dalem Agung berlokasi di barat daya hutan. Pura ini adalah tempat utama dan terpenting di hutan tersebut.
2. Pura Beji terletak di barat laut dengan menggunakan konsep tri mandala.
3. Pura Prajapati merupakan tempat kremasi yang berada di timur dan sepanjang sisinya terdapat pemakaman. (Nuning)

Tanah Lot



Bali hadir dengan sejuta pesona, salah satu pesona itu hadir di Tanah Lot yang terletak di Desa Beraban Kecamatan Kediri Kabupaten Tabanan, sekitar 13 km barat Tabanan. Disinilah para wisatawan biasanya menyaksikan matahari terbenam (sunset) yang begitu indah. Obyek wisata Tanah Lot memiliki dua pura, yang satu terletak di atas bongkahan batu dan yang satunya terletak di atas tebing mirip dengan Pura Uluwatu. Pura Tanah Lot ini merupakan bagian dari pura Sad Kahyangan, yaitu pura-pura yang merupakan sendi-sendi pulau Bali. Pura Tanah Lot merupakan pura laut tempat pemujaan dewa-dewa penjaga laut.



Keunikan pura ini antara lain adalah lokasinya yang berada diatas bukit batu besar pinggir laut. Pada saat air surut dan tingginya tidak lebih dari selutut, kita bisa menyebrang menuju tempat itu.








Di sebelah utara pura, tepatnya di dalam gua bawah tebing, terdapat ular suci (holy snake) yang dikeramatkan. Di sana biasanya ada bapak-bapak yang duduk sambil membawa lampu senter di dalam goa. Ular tersebut berwarna hitam kuning, pipih dan beracun, dipercaya sebagai selendang Dang Hyang Nirartha yang terlepas saat sedang bertapa dan hingga kini menjadi penjaga pura. Biasanya disana muncul 2, 3 atau 5 ekor ular. Di tempat ini pula terdapat sumber air tawar bernama Tirta Pabersihan (biasa digunakan sebagai sarana memohon kesucian).

Para wisatawan dapat memegang ular tersebut sambil memanjatkan doa dalam hati. Berkaitan dengan hal tersebut, ada satu mitos di sana, yaitu apabila ada orang yang sedang berpacaran dan membawa pacarnya berkunjung ke Tanah Lot dan melihat ular tersebut, maka akan menyebabkan putusnya hubungan tersebut. Hmmm... tentu ini semua kembali pada kepercayaan kita masing-masing. (Nuning)

Benteng Vander Wijck



Anda menyukai wisata sejarah? Coba dech kunjungi Benteng Vander Wijck di kota Gombong, sekitar 21 KM dari arah Kebumen atau 118 km ke arah Barat dari Yogyakarta. Decak kagum kami ketika melihat benteng bersejarah yang begitu kokoh. Seperti terlihat pada gambar di atas, benteng seluas 3606,625m2 perlantainya berdiri kokoh sejak 1818 dengan bentuk persegi delapan. Tinggi Benteng mencapai 9,67 m, ditambah cerobong 3,33 m.
Di dalam benteng ini terdapat 16 barak dengan ukuran masing-masing 7,5 x 11,32 m.
Begitu memasuki benteng kita akan memasuki barak-barak tersebut, yang beberapa diantaranya memperlihatkan gambar-gambar bersejarah. Barak-barak lainnya memperlihatkan ruang para Bupati dari pertama hingga kini, ruang pahlawan dan ruang Panglima.
Bangunan benteng ini sebagian besar masih asli, beberapa renovasi dilakukan untuk menambah daya tarik benteng. Pada bagian atap benteng terdapat kereta mini yang dapat digunakan untuk mengelilingi benteng dari atas, hanya dengan membayar Rp. 3.000,-
Berdasarkan informasi dari pemandu yang ada di sana, sejarah tentang Benteng Vander Wijck ini masih perlu dikaji. Banyak pihak menyebutkan bahwa Benteng Vander Wijck merupakan benteng pertahanan Hindia - Belanda, namun bentuk persegi delapan pada benteng juga memungkinkan ada hubungannya dengan Portugis.
Saat ini Benteng Vander Wijck juga banyak dikunjungi oleh muda mudi yang sedang berpacaran. Namun tentu pihak pengelola selalu berpatoli agar tetap pada koridornya (Nuning)

November 21, 2008

Gua Jatijajar

Objek wisata Gua Jatijajar kami kunjungi secara tidak sengaja dalam perjalanan pulang dari Bali menuju Bandung melalui jalur darat sekitar tahun 2006.
Sebagai orang-orang yang senang berwisata jiwa kami langsung terpanggil untuk menelusuri setiap penunjuk objek wisata di sepanjang jalan. Tidak kecuali ketika melintasi wilayah Kebumen.
Sebagai objek wisata andalan, Gua Jatijajar memiliki daya tarik luar biasa bagi calon wisatawan baik domestik maupun mancanegara dan untuk wilayah Kebumen, objek wisata ini paling banyak dikunjungi oleh wisatawan. Para pemandu di sekitar gua langsung menghampiri kami begitu kami menginjakkan kaki di mulut gua. Mereka menceritakan setiap detail lokasi yang kami lalui. Dari mereka kami mengetahui bahwa Gua Jatijajar ditemukan sejak tahun 1802 oleh seorang petani bernama ”Jayamenawi” sebagai pemilik tanah di atas Gua tersebut. Sudah cukup tua juga ya.. Dan tentu kami tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk membawa Gua Jatijajar ke forum Simposium Kebudayaan Indonesia-Malaysia yang diselenggarakan Unpad-UKM di Selangor Malaysia pada tahun 2007, dengan membawa tulisan berjudul Model Pemberdayaan Masyarakat Sekitar Objek Wisata Gua Jatijajar Pasir Luhur Kebumen Indonesia.

Berikut ini yang dapat kami bagi bersama Anda tentang Objek Wisata Gua Jatijajar.


Gua Jatijajar adalah Gua alam yang terbentuk dari batu kapur. Panjang gua sekitar 250 m dengan lebar rata-rata 25 m dan ketinggian 15 m. Mulut Gua yang tinggi dan lebar ini menyingkapkan lapisan batu gamping pejal yang kompak dan keras. Pada dinding masuk sebelah kanan tersingkap sisa endapan sedimen gua yang banyak mengandung fosil moluska. Beberapa spesies grastropoda dan pelecypoda terawetkan pada lapisan lempung pasiran berwarna coklat tua. Beberapa meter dari pintu masuk gua, tersingkap sedimen pada sebuah sisa kanopi tua. Kanopi di dalam gua ini menunjukkan sisa keaktifan sungai bawah tanah beberapa ratus ribu tahun yang lalu. Sungai bawah tanah yang masih aktif di dalam gua tersingkap melalui beberapa lubang yang terletak antara 1-3 meter di bawah lorong fosil utama. Ada tujuh sungai / sendang diketahui berada di dalam Gua Jatijajar. Dari ketujuh gua yang ada ini, 4 gua yang airnya dipercaya berkhasiat untuk mencapai tujuan tertentu dan dibuka untuk umum yaitu :

1. Sendang Kantil.
Di dasar Sendang Kantil terdapat sifon yang dapat ditelusuri dengan metoda penyelaman (cave diving). Air dari sendang ini apabila dipakai untuk mandi atau mencuci muka dipercaya akan dapat mempermudah mencapai cita-cita/tujuan.
2. Sendang Mawar.
Air dari sendang ini apabila dipakai untuk mandi atau mencuci muka dipercaya berkhasiat bisa awet muda.
Sendang Kantil dan Mawar telah dibangun sehingga mudah dijangkau.
3. Sendang Jombor
Sendang Jombor dihuni oleh seekor pelus sepanjang 1 m dan dikeramatkan sehingga untuk memasukinya harus mendapat ijin terlebih dahulu dari pengelola Gua.
4. Sendang Puserbumi
Sendang Puserbumi merupakan sebuah sumuran tegak bergaris tengah sekitar 50 cm. Alirannya langsung ke luar ke permukaan di luar gua. Sebagaimana Sendang Jombor, Sendang Puserbumi juga sangat dikeramatkan dan dijadikan tempat berziarah dengan menaruh sesaji untuk memohon keinginannya. Untuk memasuki sendang ini juga harus mendapat ijin terlebih dahulu dari pengelola Gua.
Sendang Jombor dan Puserbumi masih alami, belum dibangun sehingga masih gelap, belum ada penerangan dan jalannya licin.
Adanya kepercayaan masyarakat akan khasiat dari sungai-sungai yang ada di dalam gua ini merupakan daya tarik bagi calon wisatawan untuk mengunjungi Gua Jatijajar.



Sebagai simbol Objek Wisata Gua Jatijajar di muka gua telah dibuat patung binatang purba Dinosaurus. Dari mulut patung ini keluar air dari Sendang Mawar dan Sendang Kantil yang dimanfaatkan oleh penduduk sebagai sumber pengairan sawah desa Jatijajar dan sekitarnya. Masyarakat percaya bahwa air tersebut mempunyai khasiat dapat menyuburkan tanah sawah yang mereka tanami, sehingga air dari dalam gua ini dimanfaatkan untuk pengairan pesawahan.



Selain itu sejak Gua Jatijajar dibangun, telah ditambah pemasangan patung-patung atau Deorama yang mengisahkan legenda ”Raden Kamandaka – Lutung Kasarung” yang pernah bertapa di dalam Gua Jatijajar. Pemasangan deorama di dalam gua ini menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan



Atraksi Wisata
Kesenian daerah yang berkembang di sekitar wilayah Gua Jatijajar diantaranya adalah Kuda Lumping, Tari Lawet, Wayang Kulit dan Seni Calung.


Potensi Wisata Pendukung
Unsur wisata pendukung yang digali dari adat, tradisi dan kebudayaan yang berkembang di masyarakat Kebumen, diantaranya adalah :
- Upacara ritual pengambilan sarang burung walet di tengah Karangbolong.
- Benteng pertahanan Jepang.
- Industri keramik Jatisari, pembuatan genteng dan batubata di Sokka.
- Industri anyaman pandan di Grenggeng.
- Makanan dan minuman khas daerah (tempe, mendoan, sate ambal, nira).
- Festival layang-layang internasional yang diselenggarakan secara rutin.
- Wisatawan yang melakukan perjalanan geowisata ke daerah Kebumen dapat memanfaatkan objek-objek tersebut sebagai acara tambahan.


Potensi dan Kegiatan Produktif Masyarakat Sekitar Objek Wisata Gua Jatijajar
Keberadaan Objek Wisata Gua Jatijajar berimbas pada berkembangnya kegiatan produktif masyarakat di sekitarnya, karena terbukanya peluang usaha dalam bidang :
- Perdagangan, dengan berdirinya kios-kios di dalam objek wisata Gua Jatijajar
- Kerajinan/cendera mata, seperti anyaman pandan, batik tulis, keramik tanah liat dan batu aji
- Makanan khas, seperti Sate ayam ambal, Nasi Penggel, Soto petahanan, Lanting, Emping, Gula Jawa, Jenang.
- Akomodasi/penginapan
- Pramuwisata/pemandu.
- Usaha jasa foto


Problematika Sosial Budaya Masyarakat Sekitar Gua Jatijajar
Pengembangan objek wisata tidak terlepas dari beberapa kelemahan. Adapun kelemahan yang diidentifikasi oleh Dinas Pariwisata Seni dan Budaya
- Kurang profesionalnya aparatur dalam melaksanakan tugas pelayanan
- Terbatasnya jumlah karyawan/petugas yang memahami bidang kepariwisataan dan melaksanakan pelayanan/pemandu di lokasi objek wisata.
- Kurangnya kegiatan dan sarana promosi wisata.
- Kurangnya kualitas objek wisata dan budaya agar layak jual.
- Kurangnya pemahaman sadar wisata masyarakat.
- Rendahnya sosial ekonomi masyarakat.
Adapun problematika sosial yang muncul karena keberadaan Objek Wisata Gua Jatijajar ini adalah :
- Banyaknya bisnis WC umum yang tidak mempunyai septikteng menyebabkan air sungai keruh.
- Budaya yang dibawa wisatawan mempengaruhi perilaku penduduk. Penduduk, khususnya remaja suka mengikuti pola hidup para wisatawan. Meniru cara berpakaian, cara makan, cara hidup yang tidak sesuai dengan budaya
- Banyak wisatawan yang berkunjung ke suatu daerah sering dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak pantas seperti pemerasan yang menyebabkan citra wisata yang buruk.
- Kurangnya pemberdayaan aparatur desa.
- Kurangnya kepedulian masyarakat terhadap aset budaya memunculkan perilaku pengrusakan lingkungan baik karena pembangunan prasarana dan sarana wisata, maupun karena ulah pengunjung atau tangan-tangan jahil
- Pengelolaan Gua Jatijajar oleh pihak Dinas Pariwisata Daerah Kebumen, menimbulkan ketidakpuasan pagi pemerintah desa setempat yang merasa keberadaan Objek Wisata tidak memberikan kontribusi riil selain hanya peluang usaha semata. Pemda dianggap tidak memberikan kesempatan pada masyarakat untuk turut mengembangkan objek wisata. Hal ini menimbulkan sikap apatis pemerintah desa terhadap perrkembangan objek wisata tersebut.



Model Pemberdayaan Masyarakat Sekitar Objek Wisata Gua Jatijajar
Pembangunan pariwisata sebagai sektor andalan dan unggulan berkaitan dengan peranan dari berbagai pihak. Pemberdayaan masyarakat menjadi kunci utama kesuksesan pelaksanaan program pembangunan dan pengembangan potensi pariwisata. Dalam rangka pemberdayaan ini dibutuhkan model-model pemberdayaan yang sesuai dengan karakteristik masyarakat sekitar lokasi pariwisata, dalam hal ini adalah masyarakat di sekitar Goa Jatijajar. Berikut ini beberapa model pemberdayaan masyarakat yang dapat dikembangkan di sekitar wilayah Goa Jatijajar :

1. Model Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Sistem Pengetahuan
Masyarakat di sekitar Goa Jatijajar memiliki pengetahuan tentang sejarah Goa Jatijajar yang dikaitkan dengan folklor Satria Kamandaka dan potensi alam di sekitar Goa. Pengetahuan in didapat sejak kecil secara turun temurun dari generasi ke generasi.
Dengan pengetahuan ini, masyarakat sekitar dapat menyebarluaskan pengetahuannya kepada wisatawan dan calon wisatawan. Pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat tersebut, memunculkan bermacam-macam motif yang mengarahkan pada perilaku sebagai berikut :
- Pada masyarakat petani, menjadikan air yang bersumber dari sendang yang terdapat di dalam Gua Jatijajar sebagai sumber pengairan untuk sawah-sawah di sekitar Gua.
- Pada masyarakat pedagang, potensi wisata tersebut membuka peluang usaha di berbagai sektor, seperti kerajinan, makanan khas, rumah makan dan lainnya;
- Bagi pemerintah sendiri, pengetahuan tentang potensi yang terdapat pada kawasan Gua Jatijajar mendorong kebijakan dalam alih kelola Objek Wisata Gua Jatijajar yang sebelumnya dikelola oleh masyarakat secara konvensional. Pengelolaan yang diawali dengan pemugaran Gua Jatijajar disebabkan atas potensi wilayah tersebut sebagai daerah tujuan wisata yang mampu menjadi salah satu penghasil devisa, guna meningkatkan pendapatan daerah, mendorong pertumbuhan ekonomi, memperluas lapangan kerja dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan tetap melestarikan alam dan memelihara nilai-nilai budaya.

2. Model Pemberdayaan Berbasis Sistem Kepercayaan

Biasanya di lingkungan di daerah yang terdapat gua, terdapat suatu masyarakat yang memiliki kepercayaan. Pengetahuan yang yang berasal dari leluhur dan dipahami secara turun temurun dari generasi ke generasi mengenai keberadaan gua telah mengkristal dalam keyakinan budaya. Keyakinan tersebut pada akhirnya menimbulkan kepercayaan yang sangat melekat di kalangan masyarakat bahwa Gua Jatijajar mempunyai kekuatan magis, karena gua biasanya menggambarkan keadaan yang bersifat magis, sakral dan angker. Legenda gua, Khasiat Sendang yang airnya memiliki kekuatan magis tertentu (seperti membuat awet muda, menyuburkan tanaman). Adanya sistem kepercayaam tersebut, mengkaitkan kekuatan potensi gua sebagai media ritual (untuk mendapat berkah, wangsit, dengan tujuan yang bermacam-macam) dengan cara bertapa, memberi sesajen, tirakat maupun acara-acara yang bersifat ritual.

3. Model Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat
Potensi lokal Gua Jatijajar telah berkembang menjadi potensi wisata yang mengakibatkan peningkatan arus wisatawan baik mancanegara maupun nusantara ke kawasan wisata Gua Jatijajar, tentu saja menuntut bermacam-macam pelayanan dan fasilitas yang semakin meningkat jumlah dan ragamnya. Hal ini memberi manfaat ekonomi bagi penduduk, pengusaha maupun pemerintah setempat, seperti :
Kesempatan berusaha, baik usaha yang langsung untuk memenuhi kebutuhan wisatawan maupun yang tidak langsung. Lapangan usaha langsung meliputi usaha akomodasi (hotel, homestay, penginapan), restoran/rumah makan, biro perjalanan, toko souvenir, sanggar-sanggar kerajinan dan kesenian, pramuwisata dsb.
Lapangan usaha tidak langsung, seperti : pertanian, perikanan, peternakan, perindustrian dan kerajinan dan lainnya.
Terbukanya lapangan kerja. Luasnya kesempatan dalam usaha berarti akan membuka lapangan kerja, baik lapangan kerja di berbagai usaha yang langsung memenuhi kebutuhan wisatawan maupun tidak langsung.
Meningkatnya pendapatan masyarakat dan pemerintah
Mendorong pembangunan daerah. Berkembangnya kepariwisataan di daerah mendorong pemerintah daerah dan masyarakat mempersiapkan dan membangun prasarana yang diperlukan seperti : pembangunan dan perbaikan jalan, instalasi air dan listrik, pembenahan obyek dan daya tarik wisata,perbaikan lingkungan, pengkondisian masyarakat dan sebagainya.
Sebenarnya di sekiar Gua Jatijajar masih banyak gua-gua lainnya yang dapat dijadikan objek wisata, sehingga Kebumen semestinya dapat mengembangkan Objek Wisata Gua. (Nuning & Lilis)