May 04, 2010

Ibu..

Ibu… Dalam kelembutanmu, kurasakan kekuatan.
Dalam peluhmu kurasakan ketegaran.
Dalam sedihmu, kurasakan kesabaran.
Dalam tangismu, kurasakan kasih sayang.
Dalam senyummu, kurasakan kedamaian.

Ibu ... Masih kurasakan Kehangatanmu menembus dinding-dinding kalbu.
Meluluhkan segala resah.
Kubiarkan semua kenangan itu hadir, menyemangati langkahku.

Nuning, 1st posting on Status Update FB, 06 October 2009 at 14:31 via Mobile Web

April 29, 2010

Sayap-sayap Kehidupan












"Hidup tidak selebar daun kelor" begitu pepatah yang selalu melekat tak kala kita mendapatkan keputusasaan. Jejak langkah yang terekam tidak jarang memuculkan beribu keluhan dan membalutnya dalam bingkai kesakitan. Merasa menjadi diri yang paling teraniyaya, tanpa berusaha mencari makna di balik ketidakberdayaannya. Sementara waktu terus berjalan tanpa ada kecuali.Tidak berhenti manakala harapan demi harapan kita sirna. Mentari terus terbit dari ufuk timur setiap paginya dan bulan terus menerangi bumi setiap malamnya. Saat kita berhenti melangkah, jiwa-jiwa lain berlari mengejar mimpi-mimpinya. Bukan kekuatan yang didapat, melainkan kita hanya terperosok dalam kepedihan yang tanpa batas.

"Hidup tidak selebar daur kelor". Apabila burung yang mempunyai dua sayap, salah satu sayapnya patah dia masih bisa menggelapar dengan satu sayapnya yang lain. Manusia tentu punya lebih dari dua sayap. Kita punya dua tangan untuk meraih mimpi-mimpi kita, kita punya dua kaki untuk menapakkan pondasi kehidupan, kita punya dua telinga untuk mendengarkan suara alam dan ketentuan-Nya, kita punya mata untuk melihat cahaya kehidupan, kita punya hidung untuk mencium semerbak wangi kasih sayang, kita punya hati untuk senantiasa mematri asa dan kita punya pikiran yang senantiasa dapat membawa kita keluar dari setiap masalah yang kita hadapi.
Kalau dengan sayap-sayap kehidupan ini kita tidak dapat terbang, kita masih dapat berlari.
Kalau dengan sayap-sayap kehidupan ini kita tidak dapat berlari, kita masih dapat berjalan.
Kalau dengan sayap-sayap kehidupan ini kita tidak dapat berjalan, kita masih dapat berdiri tegap menjaga makna hidup kita.
Manakala dengan sayap-sayap kehidupan ini kita sudah tidak sanggup berdiri, kita masih punya Tuhan sebagai tempat mengadu dengan kesabaran dan keikhlasan sebagai tamengnya.

Nuning, 29 April 2010 @kampus
Tulisan ini telah diposting di Notes Facebook penulis pada 29 April 2010

April 20, 2010

Bukan Cinta Terlarang

Kurasakan ada debar di dada saat bersamamu

Kuyakinkan ada kerinduan saat tak bersamamu

Bahkan tak perlu kucari hadirmu dalam anganku

Karena kamu selalu ada dalam ingatanku


Kasih… seandainya saja cerita ini dapat kuubah

Kupastikan kamulah yang ada disampingku saat ini

Bersamamulah kan kuutai lembar demi lembar kisah

Dalam romantika cinta yang abadi


Namun, kusadari kisah ini tak mungkin kembali

Bersamanya aku telah mengucap janji setia

Kepadanya telah kupersembahkan cinta suciku

Dan kepadamu kan tetap kupersembahkan ketulusan rasaku.

Kasih…rasa ini adalah anugrah dan akan tetap kujaga untukmu

(Poetry by Request. Nuning, puisi ini telah diposting di Facebook penulis pada 20 April 2010)

April 19, 2010

Suara Rindu..

Hai..buat kamu nun jauh di sana...
Kali ini bukan puisi yang aku tulis
Melainkan suara rindu yang senantiasa ingin mendekapmu dalam ruang cintaku.
Rindu yang berbisik dari kalbu,
Melintas di antara awan, angin, badai dan terjangan ombak
Membuat bisikan semakin kuat dan nyata bahwa ini adalah suara rinduku
Suara rindu yang akan aku bawa kepadamu
Hingga bisikannya dapat menyentuh kalbumu.




(Nuning, diposting pada Facebook penulis pada 19 April 2010)

April 17, 2010

Sepenggal Rindu Untukmu

Sepenggal kisah pernah singgah dalam lembaran hidupku
Kisah sederhana yang menjadi sangat berarti
Kisah tanpa haru biru namun menorehkan sejuta makna
Ya…makna yang begitu dalam
Karena ada kamu di sana

Sekian lama kisah itu terpendam
Berbalut sejuta kisah baru
Tanpa bersuara
Seakan ingin bersembunyi

Namun, rasa mana yang mampu tertahan
Tak kala dirimu hadir kembali
Menghadirkan kisah lama
Walau tak satu katapun yang mampu kuucapkan
Getaran cinta kan tetap menyapaku untukmu
Dan penggalan rindu kan terus menyelimuti hatiku

(Nuning, Puisi ini diposting pada Facebook penulis pada 10 April 2010)